6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Kali ini kami akan ulas tentang 6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!. Mungkinkah selama ini Anda berdaya upaya bahwa membeli sebuah franchise pasti selalu menguntungkan sebab seluruh kemungkinan risiko telah diperkecil oleh pihak franchisor?

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Pemikiran demikian memang ada benarnya, walau tidak selalu benar dalam praktik dan kenyataannya. Kenapa risiko kegagalan usaha membeli franchise lebih kecil ketimbang membuka usaha sendiri? Sebab pada ketika membuka usaha sendiri, masih ada metode “Trial and Error” yang harus dipakai, apalagi seandainya tidak ada rekan atau saudara yang dapat memberi bimbingan dalam usaha yang baru dirintis tersebut.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Meski sekiranya membeli franchise, risiko kegagalan dapat diperkecil, sebab perusahaan pewaralaba (franchisor) telah menyediakan seluruh sesuatunya untuk mendorong investor (terwaralaba / franchisee), termasuk survei, metode pemasaran dan promosi, perizinan, bahan baku, manajemen, standar kerja (SOP), desain interior, dan lain sebagainya.

Berdasarkan John Naisbit dalam bukunya yang berjudul Megatrends, franchise yakni konsep pemasaran yang paling berhasil dalam sejarah umat manusia. Menurutnya, di USA, tiap-tiap delapan menit, lahir satu outlet waralaba. Konsep waralaba ini kemudian merambah hingga ke Indonesia, di mana sepuluh tahun terakhir ini banyak bermunculan pebisnis yang menawarkan konsep waralaba terhadap masyarakat (calon pemberi modal).

Konsep baru ini menjadi topik hangat dikalangan dunia usaha dan media bisnis. Alhasil, semakin banyak orang yang tertarik untuk menanamkan uangnya dengan membeli waralaba atau sekedar lisensi bisnis atau paling tidak mengenal lebih rinci bagaimana sistem waralaba itu.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Tapi yang perlu diketahui, bahwa terbukti tingkat kesuksesan waralaba di Indonesia hanya mencapai 60% saja, padahal di negeri asalnya, Amerika, mencapai 90%. Dari isu-informasi yang beredar, rupanya memang banyak orang yang berhasil dengan membeli franchise.

Artinya bisnis waralaba yang dibeli berjalan cocok dengan kemauan, di mana sasaran penjualan sampai masa Break Event Point (BEP) dan hingga ROI (Return On Investment). Alias “balik Mengapa” dapat terlampaui, dan walhasil bisnis itu ibarat pohon uang, tinggal memetik profit dari investasi permulaan.

Pada dasarnya, tidak ada bisnis yang tanpa risiko. Ibarat dua sisi mata uang: ada gambar ada angka, senantiasa ada kemungkinan rugi yang wajib dihadapi. Dengan bisnis franchise, setidaknya hal tersebut bisa diminimalkan. Kenapa demikian? Sebab franchise yakni bisnis yang telah teruji dan risiko gagal dalam bisnis waralaba dapat diturunkan hingga 85%. Artinya, ada garansi keamanan investasi pada tipe usaha ini.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Misalnya, dalam kasus peminjaman dana terhadap franchisee, mungkin saja terjadi tunggakan kredit. Melainkan di sisi lain, ada pula sebagian rahasia perusahaan waralaba yang semestinya diungkapkan terhadap franchisee dan hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pesaing atau franchisee lain dalam praktik bisnis yang tak sehat.

Sebagai dasar pertimbangan, Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) memberikan sejumlah fakta terhadap calon franchisee sebagai berikut:

1. Risiko kehilangan uang

Para franchisee umumnya wajib membayarkan franchise fee sebagai prasyarat utama membeli franchise. Franchise fee bersifat non-refundable. Artinya, tidak bisa ditarik atau diambil kembali sesudah dibayarkan terhadap franchisor. Oleh sebab itu, franchisee sepatutnya siap menghadapi risiko kehilangan sejumlah uang yang telah dibayarkannya itu jikalau ternyata hak franchise yang dibelinya gagal di tengah jalan, pun sebelum sempat beroperasi.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

2. Siap mengalami kerugian

Tidak penting berapa besar dana yang Anda miliki untuk diinvestasikan, tetapi yang terpenting ialah seberapa besar kerugian yang dapat Anda tanggung bila bisnis waralaba Anda mengalami kerugian. Mungkin saja, Anda dituntut untuk mengucurkan dana tambahan agar menjadikan keuntungan di masa yang akan datang.

Tersediakah dana tambahan tersebut ketika diperlukan (dari kocek sendiri atau pinjaman)? Adakah sumber penghasilan lain yang Anda miliki, sementara usaha franchise yang Anda jalankan menyedot dana untuk menciptakan cash flow positif?

3. Siap dipegang secara ketat oleh franchisor

Tidak sedikit franchisor yang menentukan segala hal secara sepihak, semisal lokasi usaha, teritori yang dibolehkan, bentuk desain outlet produk-produk atau jasa yang boleh dipasarkan, resep, bahan baku, dan cara Anda mengelola usaha.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

4. Tak dibolehkan memperpanjang perjanjian franchise

Anda perlu menghitung risiko, apakah ketetapan hal yang demikian masih menguntungkan bagi Anda atau tidak. Semua franchise agreement usai dalam 5, 10, 15, atau 20 tahun. Mungkin saja Anda tak memiliki alternatif untuk perpanjangan persetujuan franchise sesudah masa kontrak berakhir.

5. Konsumsi menurun

Tak produk mempunyai lifecycle. Tak selamanya produk yang ditawarkan diminati oleh konsumen. Ada kalanya produk akan mengalami penurunan, malahan ditinggalkan konsumen. Anda juga perlu berhati-hati saat Anda mendapati kenyataan bahwa produk yang Anda tawarkan ternyata sudah banyak ditemui di pasar, tertinggal zaman atau pasarnya sudah terlalu jenuh oleh kompetisi sehingga konsumsinya menurun.

6 Praktik tidak wajar

Anda harus hati-hati kepada praktik hard sale atau cuma mencari untung sepihak dari franchisor. Telisik kecakapan dan nama bagus franchisor dalam memberikan dukungan rentang panjang yang berkelanjutan Franchisor yang baik akan membantu dan memberikan dukungan penuh pada Anda.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Banyak orang berpendapat bahwa dengan membeli franchise berarti uangnya akan aman dan bisnisnya akan konsisten berjalan. Kenyataannya tidaklah demikian. Di Indonesia usaha yang diwaralabakan pada masa-masa eforia franchise sekitar 3-4 tahun yang lalu kini sudah tidak ada lagi usahanya atau cuma tinggal 1-2 warung saja.

Parahnya lagi ada beberapa usaha yang diwaralabakan justru kantor pusat alias franchisor-nya yang telah tutup alias gulung tikar. Oleh sebab itu, berhati-hatilah. Itu sebabnya Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) menerapkan hukum yang ketat bagi anggotanya.

6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!

Stigma “membeli franchise lebih aman ketimbang memulai usaha sendiri dengan cara dan merek sendiri”, tidak sepenuhnya benar. Dalam progres standarisasi franchise di luar negeri, seorang franchisee wajib via cara kerja menunggu atau waiting list.

Selain itu sepatutnya melakukan wawancara berkali-kali sampai franchisornya yakin bahwa orang tersebut cocok untuk mendapatkan franchise yang diinginkan. Belum lagi, pihak yang terlibat malah sepatutnya memperhitungkan lokasi untuk daerah usaha yang menjadi salah satu ukuran secara khusus suksesnya sebuah franchise.

Sekian info seputar 6 Masalah yang Ada Kalanya Hinggap Usaha Franchise, Waspadalah!, semoga artikel ini mencerahkan teman-teman semua. Mohon post ini dibagikan supaya semakin banyak yang mendapat manfaat.

Referensi:

Ternyata belajar internet itu mengasyikan, apalagi bisa punya penghasilan 20 jutaan per bulan... rasanya gimana gitu... Tapi gimana cara belajarnya?? Klik gambar di bawah untuk dapat solusinya

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *